my Schedule
June 2017
S M T W T F S
« Nov    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

 

Fortune always on my side with Xlangkah lebih maju!

Orang pintar belum tentu bisa pake internet karena bisa saja mereka hanya nyaman dengan dunia mereka yang berbau saintis atau ilmiah. Mungkin lebih percaya dengan buku-buku ilmiah yang ada di perpustakaan dan selalu bekerja di laboratorium. Tetapi menurut saya orang cerdas menggunakan logikanya untuk berani mencoba sesuatu yang up to date jika itu memang bermanfaat.  Takut akan sesuatu yang baru sudah tidak jaman untuk era globalisasi saat ini. Faktanya internet yang sekarang sudah hampir dikenal semua kalangan  walaupun belum semua mengaplikasikannya.

Contoh realnya sewaktu saya membuat laporan untuk mata kuliah Hama dan Tanaman Setahun beberapa bulan yang lalu, sebenarnya laporan ini telah diberikan banyak referensi oleh dosen tersebut berupa hardcopy jurnal dan buku yang berbahasa asing yaitu bahasa Inggris. Tetapi seperti biasa saya selalu mengerjakan laporan dua hari atau sehari sebelum deadline, otomatis referensi berupa hardcopy jurnal dan buku-buku asing tersebut tidak terjamah oleh saya karena sudah malas untuk membacanya. Dan yang saya butuhkan adalah refensi softcopy yang bisa langsung dicopy kemudian paste di laptop. Walaupun ini sebenarnya kurang baik tetapi namanya juga deadline apa pun akan saya lakukan. Jalan satu-satunya adalah aplikasi internet dengan kartu XL, menggunakan Mr. Google untuk mencari kata kunci pembahasan untuk laporan tersebut, dan sedikit menerjemahkan kata-kata asing yang ada di buku atau jurnal. Saat itu keberuntungan sedang mampir ke arah saya. Saat searching di internet kalimat, judul, dan gambar yang saya butuhkan tersedia dengan cepat jadi laporan tersebut dapat terselesaikan dengan baik dan cepat.  Entah nanti bagaimana nilai dari laporan tersebut , yang penting laporan sudah saya kerjakan sesuai prosedur dosen.

Mungkin ini masih dalam kasus yang bisa dikatakan  sepele tapi masih ada satu contoh yaitu di saat up to date lagu-lagu dan film asing  terbaru. Waktu itu obrolan teman-teman di kampus sebagian tentang lagu-lagu Korea karena saya tidak terlalu suka dengan lagu tersebut, saya mencoba mencari lagu asing lain yang sedang up to date. Bawa laptop ke kampus memang tidak pernah rugi karena bisa internetan gratis. Tapi walaupun internetan gratis tetep pake kartu XL. Langsung searching lagu asing di internet dan saya temukan lagu dengan judul “We Dance On” oleh N-Dubz ft. Bodyrox.

Dan ternyata lagunya memang easy going  jadi langsung didownload, pindahkan lagu ke handphone kemudian tunjukkan ke teman-teman saya di kampus. Dan keberuntungan tetap menghampiri saya, teman-teman ternyata suka dengan lagu yang baru saya download, so tidak kalah dengan lagu Korea.  Internet memang sangat membuat Xlangkah lebih maju,  dan tereksis pastinya bersama XL jangkauan luas.

 

 

 

 

Ni Nengah Putri Adnyani

Departemen Proteksi Tanaman, IPB

Dramaga Regency Blok D 31/ depan No. 19, Dramaga-Bogor

16680

Mungkin hanya aqu orang yg paling cepat putus asa di dunia ini, ketika hidup qu dilawan dengan sebuah hasil nilai yg sangat buruk, yg membuat pikiran ini menjadi sempit. merasa tidak ada guna melanjutkan cita-cita yg masih ragu aqu lanjutkan. kenapa hasilnya selalu separti ini, di saat driqu merasa sudah maksimal tapi bagi orang lain ini belum seberapa, harus bagaimana lagi???? tidak bisa mengeluh terus, aqu sadar apa yg aqu perbuat selama ini tapi aqu tidak menyangka bahwa hasil yg akan kupetik terlalu membuat qu jatuh ke jurang yg tiada brlantai. tangis yg tiada guna keluar lagi!!!!! oh god  help me, where are mistaked me??? I confused god…

I will do something but I don’t know the all at world…


Om Swastiastu. . .

God, I am jusT ordinary women,

Titi jenuh ada

Kata mundur timbul

Otakku berkutat lagi

Dimana jalan keluarnya?knpa tidak ada???

Kenapa buntu. . .

Help me please God

I don’t want to make my parent’s, sad n cry. . .noooooooooo

My parent’s must always very happy, NOT SAD!

I hope that’s all happened.

Only that god, please^_^

Laporan Field Trip

Ilmu Hama Tumbuhan Dasar

“HAMA YANG MENYERANG DI DAERAH CINANGNENG ”

Oleh:

Kelompok 6

Ni Nengah Putri Adnyani          (A34080013)

Dr. Ir. Idham Sakti H, M.Si.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

HASIL PENGAMATAN

  1. 1. Tanaman Caisin

Famili: Brassicaceae (suku sawi-sawian)
Genus: Brassica
Spesies: Brassica rapa var. parachinensis L.

Hama yang terdapat pada tanaman Caisin :

  1. Chrysomelidae (kumbang kecil)
  2. Larva Crocidolomia pavonana (pada fase instar 2 dan 3)
  3. Phylotratta vittata ( kutu anjing) : daun berbintik-bintik dan menyebabkan Shot Hole.
  4. Larva Coccinellidae ( predator kutu)
  5. Liriomyza sp. : menyebabkan korokan pada daun.
  6. Acrididae (belalang hijau) : menyebabkan gerigitan tapi jumlahnya sedikit dan tidak khas.
  7. Staphyllinidae (wereng hijau)
  8. h. Spodoptera litura : menyebabkan daun caisin berlubang.
  9. 2. Tanaman Oyong

Famili: Cucurbitaceae (suku labu-labuan)
Genus: Luffa
Spesies: Luffa acutangula L. Roxb.

Hama yang terdapat pada tanaman Oyong :

  1. Cacantal (seperti ulat)
  2. Chrysomelidae (Aula copora) : menyebabkan daun dan buah berlubang.
  3. Liriomyza sp. : menyebabkan korokan pada daun.
  4. Ulat(Pyrallidae) : daun menjadi trasnparan.
  5. Thrips : banyak terdapat di permukaan bawah daun sehingga daun menjadi kering.
  6. Emphoasca (Cicadellidae)
  7. 3. Tanaman Terung

Famili: Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus: Solanum

Spesies: Solanum melongena L.

Hama yang terdapat pada tanaman Terung :

  1. Larva Coccinellidae (sebagai predator dan hama) : menyebabkan belang-belang pada daun.
  2. Aphid (Kutu daun) dan Kutu Kebul : banyak terdapat pada permukaan bawah daun.
  3. Emphoasca(wereng daun) : menyebabkan daun seperti terbakar atau nekrosis.
  4. Liriomyza sp. : menyebabkan korokan pada daun.
  1. 4. Tanaman Padi

Padi Vegetatif             Padi Generatif

Famili  :Poaceae(suku rumput-rumputan)
Genus  :Oryza
Spesies: Oryza sativa L.

Hama yang terdapat pada Padi :

  1. a. Pelopidaz sp. (kutu pelipat daun)
  2. b. Belalang Acrididae : meyebabkan gerigitan.
  3. c. Walang Sangit (Alydidae) : pada fase vegetatif belum menyebabkan gejala, sedangkan pada fase generatif menyebabkan gejala bulir hampa.
  4. d. Keong Emas beserta telurnya yang berwarna merah muda dan menempel pada batang padi.
  5. e. Pentatomidae : menyebabkan nekrosis pada daun dan juga polong hampa.
  6. f. Wereng Coklat : menyebabkan nekrosis dan Hopperburn.
  7. 5. Tanaman Bawang Daun

Famili: Liliaceae (suku bawang-bawangan)
Genus: Allium
Spesies: Allium fistulosum L.

Hama yang terdapat pada Bawang Daun :

  1. a. Spodoptera exigua : menyebabkan daun berlubang dan gerigitan.
  2. b. Liriomyza sp. : menyebabkan korokan pada daun.
  3. c. Belalang daun(Acrididae) : menyebabkan gerigitan pada daun.
  4. d. Kepinding Tanah : merusak bagian pangkal batang.
  5. 6. Tanaman Jambu Biji

Famili: Myrtaceae (suku jambu-jambuan)
Genus: Psidium
Spesies: Psidium guajava L.

Hama yang terdapat pada  Jambu Biji :

  1. Reduviidae : tipe menusuk menghisap, menyebabkan bercak-bercak coklat pada daun.
  2. Atellabidae (penggulung daun)
  3. Peralidae (penyalin daun) : daun pucuk menggabung.
  4. Belalang (Acrididae) : menyebabkan gerigitan.
  5. Bactocera (lalat buah) : menyebabkan buah jambu busuk dan berlubang sehingga pada buah jambu dibungkus oleh plastik.
  6. Aleyrodidae (kutu kebul)
  7. Ulat kantung : menyebabkan daun jambu berlubang.

BAB III

PEMBAHASAN

Berdasarkarkan dari pengamatan di lapang, 6 tanaman komoditi yang diamati yaitu Caisin, Oyong, Terung, Padi, Bawang daun dan Jambu Biji semuanya terserang hama lebih dari 3 spesies. Dan menimbulkan gejala yang berbeda-beda pada setiap tanaman.                                                                            Pada Caisin ada sekitar 8 hama yang menyerang tanaman. Famili Brassicaceae ini masih berumur 3 minggu dan dalam tahap pembenihan. Hama pada Caisin hampir sama pada tanaman kubis atau sawi. Selain hama yang menyerang, ada juga kotoran Lepidoptera yang menempel pada daun. Gejala yang ditimbulakan hama ini yaitu keadaan daun yang berlubang kecil-kecil tapi tidak tembus tetapi lama-kelamaan lubang tersebut akan menjadi Shot Hole. Selain itu ada gejala korokan yang disebabkan oleh Liriomyza sp. Belalang daun (Acrididae) yang menyebabkan gerigitan pada daun. Wereng Hijau juga ada tetapi tidak terlalu berpengaruh karena menyebabkan Klorosis.                                          Adapun budidaya yang diterapkan oleh petani, Caisin yang ditanam pada lahan seluas 1250 m2 ini saat persemaian Caisin diberi pupuk kandang sebanyak 20 kg dan setelah berumur 4 hari diberi Urea sebantal yang harganya kira-kira Rp 90.000.  Hari ke 5 disemprot dengan obat Kurakon lalu diberi Urea lagi setelah berumur 11 hari. Sekitar umur 18-20 hari Caisin dipindahkan dari persemaian dan pada saat umur 20 hari Caisin sudah bisa dipanen. Harga pokok dari komoditi Caisin ini sendiri yaitu Rp 700/kg dan jika dijual di pasaran harga jual Caisin Rp 2.000/kg.  Pada saat musim hujan atau dingin panen Caisin seringkali gagal. Karena itu produksi Caisin menurun,pernah terjadi harga jual terendah Caisin yaitu Rp 500/kg dan tertinggi yaitu Rp 5.000/kg.                                                                   Tanaman Oyong sendiri, diserang sekitar 6 spesies hama. Gejala yang ditimbulkan yaitu pada buah terdapat lubang-lubang, selain pada buah juga menyerang pada daun dan menimbulkan gejala yang sama. Budidaya pada Oyong merupakan sayuran dataran rendah yang dibudidayakan secara massal di lahan sawah pada musim kemarau dan di lahan kering pada musim penghujan. Budidaya Oyong memerlukan ajir untuk mempertahankan batangnya saat tumbuh besar. Lahan yang akan ditanami sayuran haruslah terkena panas matahari penuh sepanjang hari. Kualitas tanah justru tidak menjadi masalah, sebab dengan adanya bahan organik cukup, maka tanah pasir, tanah liat atau cadas sekali pun tidak menjadi masalah untuk budidaya sayuran. Tanah ini dicangkul sampai gembur dan dibentuk menjadi bedengan memanjang. Pada penanaman musim hujan, perlu dibuat saluran pembuang air (drainase) yang cukup, hingga lahan tanaman tidak tergenangi air. Pada penanaman musim kemarau, saluran drainase tidak diperlukan. Sambil menggemburkan tanah, dilakukan pencampuran pupuk organik. Harga Oyong di pasaran pada saat itu yaitu 2300/kg.                                                Tanaman Terung diserang 3 jenis hama, gejala yang diakibatkan yaitu pada daun gerigitan dan lubang dengan ukuran yang lumayan besar. Daun yang berwarna kuning dan lama-kelamaan menjadi layu. Budidaya Terung yaitu benih terung sebaiknya disemaikan dulu sebelum ditanam pada lahan yang tetap. Setelah tanam, penyiraman dilakukan kembali setiap 3 hari sekali hingga saat berbunga. Ketika masa berbunga, penyiraman dilakukan 2 hari sekali. Namun, apabila penanaman dilakukan pada daerah kering, maka penyiraman dapat dilakukan lebih sering agar tanaman tidak layu kekeringan. Pemupukan pada terung dilakukan tiga kali, yaitu sebagai pupuk dasar, susulan I, dan susulan II. Pupuk dasar diberikan saat tanah mulai diolah, pupuk susulan I diberikan 7 -14 hari sesudah tanam, dan pupuk susulan II diberikan saat tanaman mulai berbunga.            Tanaman Padi diserang oleh 5 jenis hama, gejala yang ditimbulkan yaitu korokan pada daun dan walang sangit yang menghisap bulir padi sehingga terjadi malai kosong. Budidaya padi sendiri, Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 mdpl dengan temperatur 19-270C , memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 – 7. Persemaian diairi dengan berangsur sampai setinggi 3 – 5 cm. Setelah bibit berumur 7-10 hari dan 14-18 hari, Bibit yang siap dipindahtanamkan ke sawah berumur 21-40 hari, berdaun 5-7 helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang hama dan penyakit. Dosis pupuk yang digunakan sesuai dengan hasil panen yang diinginkan. Semua pupuk makro dicampur dan disebarkan merata ke lahan sesuai dosis. Panen dilakukan jika butir gabah 80 % menguning dan tangkainya menunduk.                                               Tanaman Bawang daun diserang oleh 4 jenis hama, yang mengakibatkan gejala daun menjadi korokan dan Spodoptera exigua yang menyebabkan daun menjadi berlubang. Serta kepinding tanah yang merusak pangkal daun dan juga bakal batang. Budidaya yang diterapkan yaitu Benih / bibit Bawang daun bisa diperbanyak lewat biji maupun tunas anakan. Bibit asal setek anakan bisa langsung ditanam ke lahan. Akan tetapi, terlebih dahulu kurangi perakaran dan potong sebagian daun untuk mengurangi penguapan. Apabila menggunakan biji, lakukan persemaian untuk mendapatkan bibit. Caranya, cangkul tanah persemaian sampai gembur. Tambahkan pupuk kandang sepertiga bagian lapisan olah. Kemudian taburkan benih secara merata, tak perlu dalam cukup 0,5-1 cm dari permukaan tanah. Tutupi dengan lapisan tanah tipis-tipis. Seminggu kemudian bibit tumbuh. Biarkan hmgga memiliki 2 atau 3 helai daun, baru dipindah ke lahan. Pemupukan: Dosis pupuk kandang yang ditambahkan saat melakukan pengolahan tanah ialah 10-15 ton/ha. Selain itu, tambahkan pupuk yang mengandung unsur nitrogen tinggi, seperti Urea, dengan dosis 200 kg/ha. Sekitar umur 2 bulan, bawang daun sudah layak dikonsumsi. Bila menggunakan bibit asal biji maka waktu dihitung sejak tanaman mulai dipindahkan ke lahan.             Tanaman Jambu Biji terserang 6 spesies hama yang menyebabkan gejala gerigitan pada daun, serat-serat putih pada permukaan daun serta korokan di sekitar daun. Syarat tumbuh saat budidaya jambu biji yaitu dalam budidaya tanaman jambu biji angin berperan dalam penyerbukan, namun angin yang kencang dapat menyebabkan kerontokan pada bunga. Tanaman jambu biji dapat tumbuh berkembang serta berbuah dengan optimal pada suhu sekitar 23-28 derajat C di siang hari. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan penurunan hasil atau kurang sempurna (kerdil). Pembibitan pohon jambu biji dilakukan melalui sistem pencangkokan dan okulasi, walaupun dapat juga dilakukan dengan cara menanam biji dengan secara langsung. Untuk menjaga agar kesuburan lahan tanaman jambu biji tetap stabil perlu diberikan pupuk secara berkala. Buah jambu biji umumnya pada umur 2-3 tahun akan mulai berbuah, berbeda dengan jambu yang pembibitannya dilakukan dengan cangkok/stek umur akan lebih cepat kurang lebih 6 bulan sudah bisa berbuah.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.plantamor.com/index.php.

http://foragri.blogsome.com/budidaya-sayuran-dataran-rendah.

http://anekaplanta.wordpress.com/2008/01/09/tanaman-terung

http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-padi.html

http://naturindonesia.com/tanaman-pangan/tanaman-buah-dan-sayuran-b/635-bawang-daun.html.

http://mitra-petani.blogspot.com/2010/03/budidaya-jambu-biji.html.

LAPORAN PENGAMATAN GEJALA DALAM

TEKNIK SEROLOGI

DENGAN ENZYME LINKED IMMUNOSORBENT ASSA(ELISA) UNTUK DETEKSI DAN IDENTIFIKASI VIRUS

NI NENGAH PUTRI ADNYANI

A34080013

Endang Nurhayati, Ph.D.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

PENDAHULUAN

  1. a. Latar Belakang

Dalam praktikum ini kita menggunakan teknik serologi yang berbeda dari praktikum sebelumnya. Metode yang kita gunakan kali ini yaitu metode ELISA, yaitu metode serologi yang bersifat lebih sensitif dibandingkan 2 metode serologi lainnya. Dalam metode ini antiserum dikonjugasikan dengan enzim sehingga bila substrat enzim ditambahkan, maka kompleks antigen-antibodi dalam jumlah yang sedikit saja dapat tervisualisasi.

Sehingga reaksi serologi diperjelas dan hanya membutuhkan reaktan(antiserum dan antigen atau cairan perasaan tanaman) dalam jumlah yang sangat kecil(tingkat pengenceran yang tinggi) dibandingkan dengan metode-metode  yang sebelumnya. Selain itu, hasil yang diperoleh dapat dianalisis secara kuantitatif melalui spektrofotometer(ELISA reader). Metode ELISA ini dapat dibedakan atas Indirect ELISA(I-ELISA)dan Direct ELISA(D-ELISA). Perbedaan kedua metode ini yaitu pada tempat enzim yang terikat. Bila konjugasi enzim dilakukan pada imunoglobulin antivirus maka metode itu termasuk D-ELISA. Tetapi bila konjugasi enzim dilakukan pada molekul yang mendeteksi imunoglobulin antivirus maka metode tersebut diklasifikasikan sebagai I-ELISA.

Bottom of Form

b. Tujuan

Tujuan dalam praktikum kali ini yaitu

–          Agar kita mengetahui serta mengenal apa yang dimaksud dengan teknik serologi ELISA.

–          Setelah mengetahuinya, kita juga mengetahui apa tujuan dilakukannya metode ELISA ini dan secara langsung dapat mempraktekkannya.

–          Kemudian dapat mengaplikasikan metode ini pada penelitian yang serupa.

BAHAN DAN METODE

  1. A. Bahan

Praktikum kali ini, bahan yang kami gunakan yaitu plat mikrotiter(microtiter plate), pipet mikrotiter(150 µl atau 200 µl), antiserum, NaOH(3N), NaN3 (0.02%) ditambahkan pada setiap buffer bila perlu pengawetan, p-nitrophenyl phosphate, substrat untuk alkalin fosfatase, enzim konjugat, bahan-bahan pembuat buffer, bahan dan alat untuk menyiapkan cairan perasan tanaman, serta ELISA reader.

  1. B. Metode

Praktikum kali ini menggunakan teknik serologi metode ELISA , hal yang pertama kita lakukan yaitu menyiapkan buffer ekstraksi(milk extract buffer) yaitu dengan mencampurkan 1,25 g Tween-20 dan 1 g susu kering nonfat ke dalam 250 ml PBST pH 7,4(8,2 g NaCl , 2,9 g Na2HPO4. 12H2O , 0,2 g KH2PO4 , 0,2 g KCl dalam 1000 ml H2O dan 5% Tween-20). Setelah itu daun tanaman digerus dalam buffer ekstraksi tersebut(1/10 b/v) kemudian disaring dengan kain kasa.

Cairan perasan tanaman yang dihasilkan diambil sebanyak 100 µl kemudian dimasukkan ke dalam sumuran plat mikrotiter. Plat mikrotiter ditutup dengan kertas basah/lembab dan disimpan dalam kotak plastik yang telah diberi alas kertas basah selama semalam pada suhu 40 C atau selama 2 jam pada suhu kamar. Selanjutnya plat miktotiter dicuci 4-8 kali dengan PBST. Enzim konjugat yang sudah diencerkan dimasukkan ke dalam sumuran plat mikrotiter sebanyak 100 µl kemudian diinkubasikan pada suhu kamar selama 2 jam. Plat mikrotiter dicuci lagi sebanyak 4-8 kali dengan PBST. Sebanyak 100 µl buffer PNP (0,1 g MgCl , 0,2 g Sodium azide , 97 ml Diethanolamine) dimasukkan ke dalam sumuran plat mikrotiter dan diinkubasikan selama 30-60 menit.

Setelah waktu inkubasi tersebut maka akan terjadi perubahan warna pada cairan di dalam sumuran plat mikrotiter, yaitu warna kuning yang menandakan reaksi yang terjadi positif. Reaksi segera dihentikan dengan penambahan sodium hidroksida(3M) dan selanjutnya dilakukan pencatatan hasil serta analisis kuantitatif dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 405 nm.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A. Hasil Pengamatan

Hasil gambar yang didapat saat praktikum

Plat mikrotiter(microtiter plate)

Pipet mikrotiter                                               Plat mikrotiter dengan sumur 96

Mikrocup                          Pipet mikrotiter

Hasil yang didapat dari Plat mikrotiter :

  1. Tabung A1 dan A2 :

Menggunakan Buffer, warna yang ditimbulkan berwarna bening. Artinya tidak ditemukannya virus TMV.

  1. Tabung B1 dan B2 :

Menggunakan kontrol negatif, warna yang dihasilkan berwarna bening. Artinya tidak ada virus maka tembakau ini sehat.

  1. Tabung C1 dan C2 :

Menggunakan kontrol positif, warna yang dihasilkan berwarna kuning. Artinya terdapat virus TMV pada tembakau ini.

  1. Tabung D1 dan D2 :

Menggunakan Gonvrena glukosa, warna yang dihasilkan berwarna bening. Artinya tidak terdapat virus TMV(negatif).

  1. Tabung E1 dan E2 :

Berwarna sedikit kuning yang berarti adanya virus TMV(tembakau yang sakit).

  1. Tabung F1 dan F2 :

Menggunakan contoh daun kacang panjang, warna yang dihasilkan berwarna bening. Artinya terdapat virus mosaik pada kacang panjang tersebut.

  1. Tabung G1 dan G2 :

Menggunakan contoh kacang panjang juga, warna yang dihasilkan pun sama seperti pada tabung F yaitu bening. Artinya terdapat virus mosaik pada kacang tanah tersebut.

  1. Tabung H1 dan H2 :

Menggunakan Chenopodium amaranticolor, warna yang dihasilkan berwarna kuning. Artinya tanaman ini terserang virus yang biasa disebut penyakit yellowing.

B. Pembahahasan

Hasil praktikum kali ini kita membahas tentang teknik serologi dengan metode ELISA lebih spesifik, kelebihan serta kekurangan menggunakan metode ELISA serta hasil yang didapat dengan metode ELISA ini. Salah satu cara untuk mendeteksi keberadaan patogen virus pada benih adalah dengan metode ELISA (EnzymeLinked Immunosorbent Assays). Dasar pengujian serologi ini adalah reaksi antigen dan antibodi yang bersifat spesifik. Teknik serologi ilmu tentang reaksi kekebalan dalam serum atau tentang kerja berbagai serum. Reaksi antara antibody dengan antigen terjadi pada reaksi pertahanan hewan apabila kemasukan antigen(patogen atau benda asing). Reaksi khas itu dapat juga terjadi secara in vitro apabila antibodi yang diproduksi hewan itu diisolasi dan direaksikan dengan antigen yang mengimbasnya. Sifat khas antibodi dan antigen dimanfaatkan sebagai alat identifikasi patogen dan diagnosis penyakit virus pada tanaman. Secara umum reaksi serologi dapat digambarkan sebagai berikut:

Antibodi + Antigen → Presipitasi

pada mulanya, uji serologis ini dimanfaatkan dalam identifikasi patogen yang menyerang manusia dan hewan.

Metode ELISA sangat sensitif, cepat, dan dapat mendeteksi virus yang terdapat pada tanaman dengan konsentrasi yang sangat rendah yaitu sekitar 0,25 ng/ml. Keuntungan lain adalah ekonomis dalam penggunaan anti serum dan jumlah sampel yang diuji dapat berjumlah banyak dalam satu pengujian. Metoda ELISA mempunyai beberapa keuntungan diantaranya karena dinilai cukup cepat, sensitif dan relatif murah. Metode kimia fisika mempunjai kelemahan selain harga instument yang mahal, juga diperlukan pelaksana yang betul-betul terlatih, dan tahap analisis yang cukup panjang (ekstraksi, pemurnian dan pemisahan), dan memerlukan pereaksi yang cukup banyak, sehingga biaya analisis menjadi mahal.  Prinsip penetapan adalah pada plat mikro terjadi kompetisi antara AFB1 standar atau AFB1 yang terkandung dalamsampel dengan enzim konjugat untuk berikatan dengan antibodi yang terlapis pada plat mikrotiter. Enzim konjugat yang tidak berikatan dengan antibodi tercuci, dan enzim yang mengikat antibodi pada plat mikro dengan penambahan substrat akan memberikan warna bening dan kekuningan.

Selain itu Keuntungan dari penggunaan ELISA yaitu, ekstraksi sampel sederhana, analisis dapat dilakukan dalam waktu cukup cepat (15 menit), sensitif dan spesifik, akurat (hasil konsisten dengan metoda HPLC)  dan cukup ekonomis. Perkembangan teknik ELISA sangat bermanfaat dalam ilmu kedokteran secara umum. Selain dapat mengidentifikasi penyakit-penyakit dan sistem imun, teknik ELISA juga dapat menganalisa penyakit karena gangguan fungsi hormonal tubuh. Seperti untuk menganalisa adiponectin yang merupakan hormon yang dapat digunakan sebagai biomarker untuk memonitor kemajuan dari pengobatan penyakit diabetes dan penyakit kardiovaskular (Sinha et al., 2007). Tetapi metode ELISA juga memiliki kelemahan diantaranya dibutuhkannya waktu yang cukup lama dalam memperoleh hasil yang akurat. Diperlukannya keterampilan yang lebih dan juga membutuhkan ketelitian yang lebih juga.

KESIMPULAN

Praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa teknik serologi dengan menggunakan metode ELISA dapat membuktikan apakah tanaman itu terserang virus TMV atau tidak. Ada atau tidaknya virus pada tanaman tersebut ditunjukkan dengan dihasilkannya perbedaan warna-warna pada plat mikrotiter. Warna yang ditimbulkan pun mulai dari bening, kekuningan hingga kuning pekat. Ini membuktikan bahwa metode ELISA ini cukup berhasil. Karena mampu membuktikan kondisi dari tanaman tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Lutan, R., Zachreini, I. 1999. Immunohistochemical corelation between

Nasopharyngeal Carcinoma and Epstein Barr Virus. Singapore. Asean           Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery Journal.

http://www. answers.com (10 Desember 2009)

http://www. bukukita.com ( 10 Desember 2009)

Tanggal           17 Desember 2009

Nama               : Ni Nengah Putri Adnyani

NRP                : A34080013

Kelompok       : 5 (Lab Bio 1)

Nama Asisten  :

  1. Dorkas Elizabeth            (G34051062)
  2. Sang Ayu Putu Listya    (G34053160)

Laporan Biologi Cendawan

BUDI DAYA JAMUR KAYU

Tujuan : Memperkenalkan  dan mempelajari teknik-teknik yang berkaitan dengan                 tahapan budi daya jamur, khususnya jamur Tiram.

Hasil Pengamatan

Baglog yang terkontaminasi

sehingga tidak ditumbuhi hifa                                                Sumber: www. iptek.net.id.

Pembahasan

Praktikum kali ini, kita membahas hasil yang diperoleh dari pembuatan jamur Tiram selama kurang lebih 4 minggu. Tahapan budi daya jamur kali ini terdapat 7 proses yaitu yang pertama kita melakukan tahap isolasi, kemudian pembuatan biakan jamur dengan komposisi serbuk gergaji kayu sebesar 85% berfungsi sebagai sumber selulosa, dedak sebesar 13% sebagai sumber nutrisi, kapur sebesar 1% berfungsi untuk menetralkan pH, gips sebesar 1% juga sebagai sumber mineral dan terakhir air secukupnya untuk mencampur adonan agar rata.

Kemudian pembuatan bibit yaitu adonan tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik berukuran sedang, lalu dipasang ring+ kapas dan diikat dengan karet terakhir kantong ditimbang beratnya. Setelah 2 minggu dari proses pembuatan jamur,  masing-masing anak mulai mengamati jamur yang telah dibuat. Dalam hal ini disebut proses pemeliharan, jamur yang tidak terkontaminasi harus dibuka ikatannya, agar kemudian hifa(miseliumnya) bisa tumbuh keluar dari kantong tersebut. Kantong plastik yang tidak terkontaminasi harus disiram setiap harinya. Berbeda dengan kantong plastik atau jamur yang terkontaminasi secara otomatis tidak bisa diamati dan dilakukan penyiraman lagi karena jika kantong plastik tersebut telah terkontaminasi maka tidak ada lagi ruang bagi miselium atau hifa untuk tumbuh. Kantong plastik yang tidak terkontaminasi akan ditumbuhi jamur selama kurang lebih 4 minggu kemudian. Praktikum budi daya jamur ini, baglog yang saya buat hasilnya terkontaminasi sehingga saya tidak melakukan pengamatan lebih lanjut lagi.

Setelah kurang lebih 4 minggu pada saat koloni jamur memenuhi media produksi dilakukan panen jamur. Jamur atau miselium yang tumbuh berwarna putih. Setelah panen pertama, media jangan dibuang karena jamur akan muncul kembali setelah beberapa waktu. Jamur yang tumbuh dipetik dengan tangan sambil memutar tangkainya, usahakan jangan memetik dengan menggunakan pisau karena akan meninggalkan sisa yang merupakan sumber kontaminan.  Bagi jamur yang tumbuh setelah panen diwajibkan mencari nilai EB(Efisiensi Biologi). Efisiensi Biologi jamur merupakan perbandingan bobot jamur terhadap bobot kering media substrat.(Suriawiria, H.U. 2000) Rumus yang dipakai untuk menghitung nilai EB sebagai berikut :

Efisiensi biologi =

Kesimpulan

Praktikum budi daya jamur dalam pembuatan jamur Tiram ini masih belum berhasil karena pada baglog yang saya kerjakan terkontaminasi serta banyaknya air pada saat pembuatan sehingga hifa tidak bisa tumbuh pada baglog karena ruang pada baglog dipenuhi dengan uap air yang seperti serabut-serabut berwarna putih. Hal ini disebabkan mungkin karena kurang aseptiknya dalam proses pembuatan sehingga terjadi terkontaminasi serta terlalu banyaknya air yang digunakan.

Daftar Pustaka

Suriawiria, H.U. 2000. Sukses Beragrobisnis Jamur Kayu- Shiitake- Kuping –Tiram. Jakarta

Penebar  Swadaya.

www.botany.hawaii.edu.( 16 Desember 2009)

Tanggal           17 Desember 2009

Nama               : Ni Nengah Putri Adnyani

NRP                : A34080013

Kelompok       : 5 (Lab Bio 1)

Nama Asisten  :

1.Dorkas Elizabeth                  (G34051062)

2.Sang Ayu Putu Listya          (G34053160)

Laporan Biologi Cendawan

CENDAWAN DALAM INDUSTRI

Tujuan : Memberi pengetahuan dan keterampilan dasar mengenai prosedur

pembuatan tempe dan tape.

Hasil Pengamatan

Tempe

Tempe setelah 3 hari pembuatan,                    Tempe setelah 5 hari pembuatan,

belum ada hifa yang tumbuh.                         yang mulai ditumbuhi hifa.

Tempe setelah seminggu pembuatan,

Hifa yang tumbuh sangat banyak. Ini

menandakan bahwa tempe sudah masak.

Tape

Tape setelah 3 hari pembuatan,                                   Tape setelah 5 hari pembuatan,

setengah masak ditandai dengan                                sudah masak ditandai dengan

keluarnya air denga bau yang khas                             banyaknya air yang keluar dan

tetapi masih agak keras.                                              bau yang semakin khas.

Pembahasan

Praktikum kali ini yaitu pembuatan cendawan dalam industri, salah satu diantaranya pada pembuatan tempe dan tape. Pertama, pembuatan tempe dilakukan pada hari Sabtu siang, dengan cara direbus setengah matang, direndam 24 jam, dipecah bijinya menjadi 2 bagian(kulit arinya dibuang), ditiriskan dan ditaburi dengan laru. Setelah 3 hari dari proses pembuatan, tempe masih belum ditumbuhi hifa. Hifa mulai tumbuh pada hari ke 5, hifa mulai tumbuh pada bagian ujung-ujung tempe. Kemudian setelah 1 minggu, barulah tempe dipenuhi dengan hifa. Hifa yang tumbuh seperti serabut tipis yang berwarna putih. Hifa yang tumbuh sangat banyak sehingga hampir seluruh bagian tempe tertutupi, bau yang ditimbulkan pun sangat khas seperti bau tempe yang dijual di pasar pada umumnya.

Kedua, pembuatan tape juga dilakukan pada hari Sabtu siang tetapi pembuatan tape agak sedikit berbeda dengan tempe. Pada tape hanya direndam 8 jam, direbus setengah matang, dikeringkan dan ditaburi dengan laru. Pada hari ke 3 dari proses pembuatan, tape sudah setengah masak tapi masih agak keras. Setelah hari ke 5 dari proses pembuatan, tape sudah masak ditandai denga keluarnya air berwarna keunguan(efek dari tape yang berwarna ungu). Air tersebut terasa manis tapi ada rasa asamnya juga dan aroma yang dihasilkan sangat wangi seperti tape yang sudah masak pada umumnya.

Kesimpulan

Praktikum pembuatan tempe dan tape kali ini dapat disimpulkan berhasil. Pertama dilihat dari tempe yang berhasil ditumbuhi hifa setelah seminggu dari proses pembuatan, hifa yang tumbuh pun sangat banyak sehingga hampir menutupi seluruh bagian tempe. Sedangkan tape yang masak setelah 5 hari dari proses pembuatan ditandai dengan keluarnya air yang terasa manis tapi sedikit asam serta aroma yang sangat wangi dan khas.           

Daftar Pustaka

Gunawan, A.W. dkk. 2009. Cendawan Dalam Praktik Laboratorium. IPB Press:

Bogor.

www. iptek.net.id. (6 Desember 2009)

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU PENYAKIT TUMBUHAN DASAR

POSTULAT KOCH Xanthomonas campestris pv.oryzae

PADA TANAMAN PADI

Oleh:

Ni Nengah Putri Adnyani          (A34080013)

Dosen Pembimbing :

Dr. Ir. Sri Hendrastuti H, M.Sc

Dr. Ir. Widodo, M.Sc

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 1880, percobaan Koch dan peneliti-peneliti lain di laboratoriumnya membuktikan bahwa jasad renik tertentu menyebabkan timbulnya suatu penyakit. Koch memanfaatkan kemajuan metoda laboratorium dan menentukan kriteria yang diperlukan untuk membuktikan bahwa mikroba spesifik merupakan penyebab penyakit tertentu.  Kritera ini dikenal dengan Postulat Koch, yang menjadi garis penunjuk dan sampai kini masih dipakai dalam mencari bukti bahwa suatu penyakit disebabkan oleh jasad renik tertentu. Postulat Koch itu ialah: 1). Mikroorganisme tertentu yang selalu dapat dijumpai berasosiasi dengan penyakit tertentu, 2). Mikroorganisme itu dapat diisolasi dan ditumbuhkan menjadi biakan murni di laboratorium, 3). Biakan murni organisme tersebut akan menimbulkan penyakit bila disuntikan pada hewan atau tanaman yang rentan, 4). Penggunaan prosedur laboratorium memungkinkan diperolehnya kembali mikroorganisme yang disuntikkan itu dari hewan yang dengan sengaja diinfeksi dalam percobaan tersebut(Michael J. Pelczar, 1986).                                              Adanya kriteria tersebut menjadi jalan ditemukannya berbagai bakteri dan cendawan penyebab berbagai penyakit dalam waktu yang cukup singkat (kurang dari 30 tahun). Postulat-postulat tersebut di atas berlaku untuk patogen yang bukan tergolong ke dalam parasit obligat. Untuk melaksanakan Postulat Koch tersebut diperlukan cara bekerja yang khusus : (1) Isolasi penyebab penyakit dari bagian koch tanaman yang sakit dan mengadakan pembiakan murni. (2) Mempelajari sifat-sifat penyebab penyakit dalam biakan murni tersebut(Anonim, 2008).

1.2. Tujuan

Tujuan dalam praktikum ini adalah mahasiswa atau praktikan mampu melaksanakan dan memahami langkah-langkah dalam Postulat Koch dan mengetahui penyebab penyakit serta gejala yang ditimbulkan pada tanaman padi yang terinfeksi bakteri  Xanthomonas campestris pv.oryzae.

BAB II

BAHAN DAN METODE

2.1.   Bahan dan Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini diantaranya cawan petri, tabung reaksi, pot kecil plastik, label, botol semprotan, silet atau cutter, kertas atau tissue, laminar flow, spiritus, korek api dan jarum oose. Adapun bahan yang digunakan adalah daun padi yang terinfeksi Xanthomonas campestris pv. oryzae, media isolasi Nutrient Agar (NA),  air steril dan alkohol 70%.

2.2    Metode Patogen yang diuji pada praktikum postulat koch yang telah dilakukan adalah Xanthomonas campestris pv. oryzae yang menyebabkan penyakit Hawar Daun (Kresek) pada daun tanaman padi. Metode pertama yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah pengamatan asosiasi antara gejala dengan tanda penyakit yang ditimbulkan pada tanaman inang yaitu daun padi, asosiasi ini ditandai dengan adanya patogen pada tanaman yang sakit. Pada postulat Koch untuk Xanthomonas campestris pv. oryzae langkah awal yang dilakukan adalah mengisolasi bakteri dari potongan daun padi yang sakit dengan cara mencelupkan potongan daun tersebut ke dalam tabung reaksi yang berisi air steril sampai terlihat oose bakteri yang keluar dari jaringan. Kemudian mengambil sedikit cairan dari tabung tersebut dengan menggunakan jarum ose yang telah dipanaskan sebelumnya, lalu memindahkannya ke media Nutrient Agar(NA) dengan metode cawan gores atau kuadran. Perlakuan ini dilakukan pada laminar flow untuk menghindari terjadinya kontaminasi. Biakan bakteri ini kemudian disimpan hingga bakteri muncul pada media agar. Setelah diperoleh biakan tunggal atau biakan murni Xanthomonas campestris pv. oryzae , biakan ini kemudian diinokulasikan pada tanaman padi yang sehat dengan mengoleskan suspensi ke daun padi yang telah dipotong ujungnya. Setelah beberapa hari, dilakukan pengamatan gejala yang timbulkan pada tanaman padi yang sehat tersebut.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3. 1      Hasil Pengamatan

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan dengan metode Postulat Koch diperoleh hasil pengamatan sebagai berikut :

Gambar hasil isolasi dari bakteri Xanthomonas campestris pv.oryzae menggunakan metode gores atau kuadran.

Gambar hasil dari inokulasi Xanthomonas campestris pv. oryzae ke tanaman inang padi yang sehat. Gejala yang ditimbulkan yaitu pada ujung daun tanaman menjadi kering dan garis kecoklatan.  Beberapa daun juga ada yang berwarna kekuning-kuningan.

  1. b.

Sumber: http://xanthomonasoryzae.blogspot.com Sumber : http://www.google.co.id/imglanding

Ket : Gambar  a  adalah contoh bakteri dari Xanthomonas campestris pv. oryzae.                       Gambar b adalah gejala pada daun padi yang terserang oleh bakteri                                        Xanthomonas campestris pv. oryzae.

3. 2.  Pembahasan

Praktikum menggunakan teknik Postulat Koch terdiri dari lima tahapan, yaitu asosiasi, isolasi, inkubasi, inokulasi dan reisolasi. Asosiasi yaitu menemukan gejala penyakit dengan tanda penyakit (patogen) pada bagian tanaman inang yang sakit. Isolasi yaitu proses pemindahan atau pengambilan patogen pada tanaman yang sakit ke media yang steril secara aseptik. Inkubasi yaitu proses penyimpanan media setelah proses isolasi. Inokulasi yaitu proses pemindahan suspensi yang berisi patogen dari tanaman yang sakit ke tanaman inang yang masih sehat.  Reisolasi yaitu proses pengambilan kembali inokulum dari tanaman yang sebelumnya yang telah diinokulasi, ke media baru yang steril secara aseptik.

Postulat Koch yang  dilaksanakan pada praktikum ini adalah meliputi postulat Koch untuk bakteri Xanthomonas campestris pv. oryzae pada daun padi Proses postulat koch yang dilakukan hanya berlangsung sampai tahap inokulasi ulang pada tanaman inang sedangkan tahap reisolasi tidak dilakukan. Hal ini dikarenakan waktu yang tidak memungkinkan. Proses isolasi yang dilakukan selama praktikum beberapa kali mengalami kagagalan, akibat adanya kontaminasi dari mikroorganisme lain. Proses isolasi bakteri Xanthomonas campestris pv. oryzae cukup berhasil setelah diadakan pemurnian beberapa kali dengan waktu kurang lebih empat minggu. Ciri-ciri dari bakteri Xanthomonas campestris pv. oryzae yaitu tampak pada media agar adalah koloni berelndir yang berwarna kuning pada goresan, walaupun di bagian media agar yang tidak digoresi mengalami kontaminasi.

Hasil inokulasi ulang Xanthomonas campestris pv. oryzae pada tanaman padi yang sehat menunjukkan gejala yang sama dengan gejala pada daun tanaman padi yang sakit. Gejala penyakit pada umumnya berupa bercak berwarna kuning sampai putih berawal dari terbentuknya garis lebam berair pada bagian tepi daun. Bercak bisa mulai dari salah satu atau kedua tepi daun yang rusak, dan berkembang hingga menutupi seluruh helaian daun. Pada varietas yang rentan, bercak bisa mencapai pangkal daun terus ke pelepah daun. Infeksi pada pembibitan menyebabkan bibit menjadi kering(Ardian, 2009).                            Bakteri menginfeksi masuk sistem vaskular tanaman padi pada saat tanam pindah atau sewaktu dicabut dari tempat pembibitan dan akarnya rusak, atau sewaktu terjadi kerusakan daun. Apabila sel bakteri masuk menginfeksi tanaman padi melalui akar dan pangkal batang, tanaman bisa menunjukkan gejala kresek. Seluruh daun dan bagian tanaman lainnya menjadi kering. Infeksi dapat terjadi mulai dari fase persemaian sampai awal fase pembentukan anakan. Sumber infeksi dapat berasal dari jerami yang terinfeksi, tunggul jerami, singgang dari tanaman yang terinfeksi, benih, dan gulma inang. Sel-sel bakteri membentuk butir-butir embun pada waktu pagi hari yang mengeras dan melekat pada permukaan daun(http://xanthomonasoryzae.blogspot.com).                                         Kegagalan dalam permurnian atau isolasi bakteri yang terjadi dalam praktikum yang ditandai dengan adanya kontaminasi atau tidak munculnya mikroorganisme yang diharapakan dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama adalah sumber inokulasi yang diberikan tidak mengandung mikroorganisme yang diinginkan. Kedua adalah ketidaksterilan alat-alat yang digunakan sehingga terjadi kontaminasi. Ketiga adalah adanya udara yang masuk ke laminar flow akibat laminar flow yang dibuka terlalu lebar. Dan kurang terampilnya praktikan dalam melakukan isolasi bakteri yang steril sehingga biakan yang didapat sering mengalami kontaminasi.

BAB V

KESIMPULAN

Praktikum uji Postulat Koch dapat dilakukan untuk mengetahui patogen penyebab penyakit pada tanaman dari golongan bakteri. Proses postulat Koch meliputi lima tahapan, yaitu asosiasi, isolasi, inkubasi, inokulasi dan reisolasi. Praktikum uji Postulat Koch kali ini dapat disimpulkan masih belum berhasil karena seringnya terjadi kontaminasi pada setiap isolasi. Hasil Postulat koch dikatakan berhasil jika inokulum yang diinokulasikan ke tanaman menimbulkan gejala yang sama dengan awal tanaman yang sakit dan apabila direisolasi menghasilkan patogen yang sama pula. Hal ini mungkin disebabkan karena kurang sterilnya praktikan dalam bekerja serta alat-alat yang digunakan juga masih belum steril, sehingga hasil yang didapatkan kurang maksimal.

BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Postulat Koch. http://id.wikipedia.org/wiki/Postulat_Koch. com. [diakses tanggal 12 Juni 2010].

Ardian. 2009. Gejala Penyakit Tanaman. http://ardian88. blogspot.com/2009/09/ gejala-penyakit-tanaman.html. [diakses tanggal 12 Juni 2010].

Michael J. Pelczar, E.C.S. 1986. Chan Eement of Microbiology. Edisi 1. Penerjemah Ratna sri Hadioetomo et. Al. UI Press. McGraw-Hill book company. [diakses tanggal 12 Juni 2010].

http://www.google.co.id/imglanding [diakses tanggal 11 Juni 2010]

http://xanthomonasoryzae.blogspot.com [diakses tanggal 11 Juni 2010]